TEMPO.CO, Jakarta
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menuturkan ada
pendamping yang akan memantau cara guru dalam mengajar setelah kurikulum
pendidikan 2013 diterapkan. Menurut Nuh, pelatihan guru sepanjang 52 jam untuk kurikulum hanya sebagai tiket masuk.
"Jadi 52 jam itu hanya tiket masuk, setelah itu diperkuat dengan
pendampingan," kata Nuh ketika ditemui di gedung DPR/MPR, Senin, 18
Februari 2013. Nuh menuturkan, pelatihan sepanjang lima hari ini hanya
mengenalkan konsep dari kurikulum baru, cara mengajar yang disertai
dengan praktek.
Menteri Nuh mengatakan, setelah dilatih, guru
akan kembali ke sekolah dan diawasi selama mengajar. "Pendamping yang
mengawasi guru umum adalah guru inti," kata Nuh. Mereka akan diberi tahu
jika ada kekurangan ketika menyampaikan materi ke peserta didiknya.
Pelatihan pengajar untuk kurikulum baru memang terdiri dari tiga
jenjang, instruktur nasional, guru inti, dan guru massal. Pelatihan guru
massal akan dilatih selama liburan panjang akhir tahun pelajaran, yakni
bulan Mei hingga Juni. Menurut Nuh, pelatihan diadakan pada akhir tahun
pelajaran karena saat itu guru tidak mengajar dan bisa menggunakan
ruangan sekolah untuk berlatih.
Pelatihan 52 jam itu dibagi menjadi 33 jam pertemuan
tatap muka dan 19 jam pertemuan mandiri terbimbing untuk guru di semua
jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA/SMK. Paket 52 jam pelatihan yang
hampir setara dengan empat sistem kredit semester itu menitikberatkan
pada penguasaan konsep dan prinsip kurikulum 2013 serta implementasinya.
Berdasarkan rancangan kurikulum pemerintah, jumlah instruktur nasional
yang akan dikerahkan sebanyak 531 orang. Mereka inilah yang akan melatih
8.610 guru inti. Kemudian, guru inti bertugas melatih 151.695 guru
kelas. Untuk SMP, akan disiapkan 1.350 instruktur nasional yang akan
melatih 19.880 guru inti. Mereka kemudian akan melatih 365.020 guru mata
pelajaran. Adapun untuk SMA dan SMK akan ada 324 instruktur nasional
yang melatih 2.982 guru inti.
Sekretaris Jenderal Federasi
Serikat Guru Retno Listyarti mengkritik pelatihan guru untuk kurikulum
pendidikan yang hanya 52 jam. "Bagaimana bisa materi kurikulum
pendidikan 2013 yang sangat kompleks hanya diajarkan dalam waktu 52
jam?" kata Retno.
Penyakit utama dunia pendidikan Indonesia,
kata Retno, berada pada kualitas guru. Akan tetapi, pemerintah tidak
pernah memberikan pelatihan yang sungguh-sungguh. Bahkan, dia
menambahkan, berdasarkan survei yang dilakukan, sekitar 62 persen guru
SD tidak pernah mengikuti pelatihan, hingga menjelang pensiun. Jikapun
ada yang mengikuti pelatihan, banyak yang waktu pelatihannya dikorupsi
hanya dua hari, meski para guru diminta untuk tanda tangan selama lima
hari.
"Tahun 2011 World Bank mengeluarkan riset bahwa guru
Indonesia terendah di Asia," kata guru sekolah menengah atas ini. Jika
guru tidak berkualitas, tutur Retno, siswanya juga tidak akan
berkualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar